-->

Samadi Kunjungi Penangkaran Satwa Langka Indocement

Telah Dibaca : 0 kali
GEMA, TARJUN - Kepala Istana Kepresidenan Bogor, Kementerian Sekretariat Negara, Samadi, beserta jajarannya mengunjungi lokasi penangkaran satwa langka PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) di kawasan perusahaan industri semen toga roda di Desa Tarjun Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Dan didampingi Kepala Dinas Kehutanan Kotabaru, Rurien Srihardjanti beserta staf dan para pejabat serta dokter hewan Dinas Peternakan Kotabaru, SSECSR Departement Head Indocement Plant Tarjun, Teguh Iman Basoeki dan para staf CSR.

Adapun tujuan kunjungan adalah peninjauan, check dan evaluasi atas hibah rusa tutul dari Istana Bogor ke Pemerintah Kabupaten Kotabaru yang sementara ini ditempatkan di penangkaran satwa langka Indocement.

Kepala Istana Kepresidenan di Bogor, Kementerian Sekretariat Negara, Samadi mengatakan ”Tujuan kunjungan ini untuk pengadaan penghibahan rusa tutul yang ada di Istana Kepresidenan Bogor, dan menindaklanjuti permintaan rusa tutul dari bupati Kotabaru.

"Permohonan ini sudah lama disampaikan hingga beberapa bulan diproses sesuai peraturan hingga berada di Kotabaru, karena rusa tutul merupakan aset negara," jelasnya

Ia, menuturkan, selama ini rusa tutul menjadi ikon kota Bogor dan harapan nantinya bisa juga menjadi ikon di Kotabaru.

Lebih luas Samadi, menuturkan bahwa rusa tutul ini agak berbeda dengan rusa-rusa lainnya karena suka ditempat-tempat yang bersih, maka dari itu badannya selalu bersih dan menjadikannya lebih eksklusif.

Tempat sementara di penangkaran satwa langka Indocement ini cukup bagus apalagi banyak satwa langka lainnya seperti, rusa sambar, bekantan, ikon kalimantan dan owa-owa juga hewan lainnya yang hidup dengan sehat, sedangkan kalau di Istana Bogor, rusa-rusa tutul ini kami lepas begitu saja dengan bebas diatas lahan seluas 28,8 ha,” ujar Samadi.

Sedangkan SSECSR Departement Head Indocement Plant Tarjun, Teguh Iman Basoeki menyampaikan ”Sebuah kehormatan bagi Indocement mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Kabupaten Kotabaru untuk menitipkan rusa tutul dari Istana Bogor sebelum nantinya ditempatkan di wisata hutan meranti, Sebelimbingan Kotabaru.

Hari ini Kepala Istana Kepresidenan Bogor dapat melihat secara langsung bahwa rusa tutul yang saat ini dititipkan di Indocement masih dalam kondisi sehat dan jinak. Dan rombongan juga dapat melihat program Konservasi dan Iwec (Indocement Wildlife Education Centre) yang dilakukan Indocement sebagai komitment perusahaan untuk turut serta dalam menjaga keanekaragaman hayati asli Kalimantan dan khususnya terhadap hewan-hewan langka, kata Teguh.

"Rencananya akan menangkarkan rusa tutul di area konservasi Indocement, itu pun kalau Pemkab Kotabaru masih memberikan kepercayaan, tentunya kami akan siap melaksanakan amanat tersebut,” ungkapnya.

Kurang lebih satu jam para tamu berkeliling mengunjungi satwa langka yang ditangkarkan Indocement dan sambil tersenyum gembira memandang tingkah laku hewan-hewan langka tersebut, kemudian para tamu kembali ke Guest House Indocement Plant Tarjun.

Seperti diketahui Sebagai wujud komitment PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk terhadap pemeliharaan keanekaragaman hayati, salah satunya penangkaran hewan langka khas Kalimantan Selatan, dan sebagai wujud dari salah satu program CSR Indocement maka program penangkaran hewan rusa, bekantan dan Owa-Owa menjadi pilihan untuk dikembangkan.

Disisi lain Kepala Dinas Kehutanan Kotabaru, Rurien Srihardjanti mengatakan ”Memang kita telah mengajukan permohonan kepada Istana Kepresiden Bogor untuk permintaan rusa tutul yang sifatnya hibah kepada Pemerintah Kabupaten Kotabaru, untuk ditangkarkan di wisata hutan meranti Sebelimbingan, Kotabaru.

"Sementara kita tempatkan dulu di penangkaran satwa langka Indocement, sambil menunggu sarana prasarana selesai dibangun, seperti pembangunan kandang, penanaman tumbuhan untuk pakan dan lainnya, sedangkan tenaga ahli yang mengelola sudah dipersiapkan dua orang, jadi tidak lama lagi lah akan dipindahkan," ungkapnya.

Rurien menuturkan, bahwa jumlah rusa tutul sebanyak 13 ekor terdiri dari 3 jantan dan 10 betina, syukur alhamdulillah dua ekor sedang hamil, rupanya cocok di penangkaran satwa langka Indocement, dan untuk pakan tidaklah sulit selain rumput juga kangkung, wortel serta ubi-ubian.

Untuk cuaca di wisata hutan meranti Sebelimbingan juga sangat bagus kiranya cocok untuk penangkaran ini, selain rusa tutul, nanti tak lama juga didatangkan jenis rusa lainnya, rusa timur juga rusa sambar. Jadi, di Wisata Hutan Meranti, sebelimbingan akan dijadikan Wadah Penelitian dan Pengembangan Perlindungan Satwa juga tumbuh-tumbuhan atau dijadikan arboretum,” jelas Rurien.









- Penulis : Humas ITP Tarjun - Editor : Rian - Sumber : Gema Saijaan Online
Share:

Indocement Latih Warga Olah Buah Mangrove

Telah Dibaca : 0 kali
GEMA, TARJUN - Para pengusaha kecil dan ibu rumah tangga dapatkan pelatihan cara pengolahan buah mangrove menjadi bahan pangan dari PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Plant Tarjun, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru.

Pelatihan dipusatkan di balai desa selama dua hari dan diikuti 50 peserta dari Desa Tarjun dan Desa Langadai. Sedangkan instruktur dari konsultan lingkungan Oase Shorea, Cilacap, Jawa Tengah.

Head CSR Indocement Pabrik Tarjun, Yanuar Arif Mengatakan ”Melalui pilar pendidikan dan pilar pembangunan ekonomi, perusahaan bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan sekitar operasional perusahaan, terkhusus ekonomi yang terkait dengan usaha mikro atau usaha kecil termasuk kerajinan lokal".

”Diberikannya pelatihan ini agar nantinya masyarakat peduli terhadap lingkungan, turut serta dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam disekitarnya sehingga dapat dimanfaatkan hasilnya secara berkelanjutan. Hingga dapat melahirkan usaha-usaha kecil untuk meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” harap Arif.

Ia pun, mengungkapkan kegiatan ini merupakan realisasi dari lima pilar yang mendasari program bina lingkungan yaitu pilar pendidikan dan pilar ekonomi, sebagai bagian dari Program Corporate Social Responsibility (CSR) Produsen semen merk tiga roda tersebut.

Dan sebagai upaya untuk menciptakan unit-unit Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di bidang kerajinan di daerah Tarjun, Langadai dan sekitarnya. 

Salahsatu instruktur, Anita Dwi Indaryani mengatakan ada beberapa materi yang disampaikan, namun yang utama untuk menjadi dasar mereka adalah kelestarian lingkungan, agar tidak terjadi pengambilan mangrove dalam skala besar yang dapat merusak lingkungan artinya kegiatan ini masih dalam batas wajar, bila perlu di awasi karena yang dimanfaatkan adalah hanya buah mangrove saja.

"Manfaat besar mangrove yaitu akarnya menahan gelombang tinggi, cegah erosi atau abrasi, minimalisir pencemaran udara, berkembang biaknya biota laut dan lainnya, sedangkan pemanfaatan buah mangrove dapat diolah menjadi bahan pangan,” jelas Anita.

Perlu diketahui ternyata Desa Tarjun dan Desa Langadai kaya akan sumberdaya alam terutama mangrove, dan ada berbagai jenis mangrove di daerah tersebut, yaitu, bakau bini (bruguiera gymnorrhyza), prapat (sonneratia caseolaris), api-api (avicennia marina), nipah (nypa fruticans) dan lainnya.

Masih kata Anita, buah mangrove dapat dijadikan tepung, keripik, kerupuk, sirup dan lainnya, sedangkan tingkat gizi juga baik, contoh bakau bini dengan berat 45 gr memiliki kandungan kadar air 73,756%, kadar lemak 1,246%, protein 1,128%, karbohidrat 23,52% dan kalori 371 kal/100gr dan beragam produk olahan dapat berbahan dasar buah mangrove”.

Di daerah lain telah berproduksi hingga memasarkannya di toko-toko, swalayan dan mall, bahkan sering ditampilkan atau dipromosikan di pameran-pameran produk UMKM, namun tetap harus ada yang melakukan pengawasan agar kelestarian mangrove dan lingkungan tetap terjaga, ungkapnya Anita.

Peserta dari RT.08 desa tarjun, Nur Hijah mengatakan, pelatihan ini cukup bagus dan mudah dipahami karena selain penyampaian teori juga adanya praktek dan dialog antara peserta dengan instrukturnya.

"Kepada perusahaan semen tiga roda agar pelatihan ini dapat dilaksanakan lagi agar ibu-ibu yang lainnya juga dapat mengikutinya,” ujar Nur.

Disampaikan peserta lainnya dari RT.02 Desa Langadai, Jannah juga mengatakan, pelatihan ini tidaklah sulit dilakukan karena lebih banyak pada kerjaan di dapur dan pas buat kami ibu-ibu dan modalnya tidak banyak bahkan bahan baku melimpah di desa kami.

"Kerajinan ini tidak mengharuskan kami bekerja pada orang lain namun kemandirian dengan pemasaran sendiri," ungkapnya.










- Penulis : Humas ITP Tarjun - Editor : Rian - Sumber : Gema Saijaan Online
Share:

Arsip Blog

Follow Twetter Gema Saijaan Online
Follow Facebook Gema Saijaan Online
`
 
Tutup
Hosting Murah